Female and
her attitude


Welcome to my blog
where all my stuff
put together at one place



It comes from heart




Introduction .


Aha!

Prasti.
Indonesia.
Fanatic.
Lunatic.
Soul Eater.

My Interest
. Music . Art . Technology . Books . Movie . Fantasy .

My Fave
. Paulo Coelho's . Muse . Silverchair . Switchfoot . LP .

WTF Is This


it's thoughts
it's dreams
it's diary
if you don't like it
blame the caffein honey!


has people talking .





soft lips are open .

September 2008
Oktober 2008
Desember 2008
April 2009
Juli 2009
Agustus 2009
September 2009
Desember 2009

feed the ears .

Rihanna-Don't Stop The Music
Switchfoot-Meant To Live
Puddle of Mud-Blurry
Shayne Ward-No Promises
Paramore-Born For This
Ost Happy Tree Friends
Linkin Park-New Divide


Fav Link .

YouTube

21Movies

DetailsMag
Minggu, 13 Desember 2009
03:07

Inglourious Basterds

Bandung, 31 Oktober 2009

Seingat gua, pertama kali liat tulisan ini waktu beli majalah Cinemags. Karena hanya ada tulisan lengkap dengan percikan darahnya, gua ga terlalu penasaran. Keren sih, tp masih ga tau itu film apa. Dari gambarnya aja udah ada kesan serius, apalagi ada logo nazinya juga. Gua ga terlalu suka sama film2 tentang perang. Jadi ga terlalu tertarik, apalagi sebelumnya lebih banyak nonton film2 sci-fi kayak Iron Man, Transformer, GI Joe.

Walopun akhirnya udah diulas panjang lebar di Cinemags bulan berikutnya plus embel2 disutradarai oleh Quentin Tarantino, tetep saja tidak membuat gua pengen nonton film satu ini. Gua tetep mikir klo film satu ini serius banget. Jadi kemungkinan besar gua bakalan bosen nonton film ini.

Seminggu yang lalu, temen gua nonton film ini. Trus gua tanya ama dia, seru ga filmnya? Dia bilang, filmnya bagus tapi banyak dialognya. Wah..pas dia ngomong gt, gua udah langsung menduga filmnya bakalan se-boring film2 perang lainnya.
Pas balik bandung, akhirnya gua memutuskan nonton film ini bareng adek gua. Nothing to lose. Tidak berharap terlalu banyak dengan film ini. Kalo bagus ya sukur klo ga ya juga ga papa. Yang kebayang sih gua bakalan ketiduran saking boringnya.
Tapi ternyata dugaan gua salah!Filmnya seru.It’s totally awesome!

Filmnya tipikal Quantine Tarantino banget....

Memang di awal film sudah ada dialog yang lumayan lama...tp dialognya penting kok. Jadi kalau bagian-bagian dialog itu dihilangkan kayaknya ga mungkin. Lagian ga bikin bosen karena dialognya sebagian besar dalam bahasa jerman dan perancis. Ceritanya menarik sekaligus lucu. Ada adegan yang lucu juga. Jadinya gua ga merasa bosen sama sekali.

Adegan-adegannya lebih banyak diisi dialog tapi suasana tegangnya tetep bisa kerasa. Itu yg gua suka dari film ini. Salut banget buat Quentin!
Satu lagi yang gua suka, endingnya! Endingnya ga terduga dan susah ditebak. Yang pasti entertaining banget.

Satu tokoh yang gua suka disini adalah Hans Landa. His character is impressive! Dia disitu tampak manis dan baik hati tapi ternyata pembunuh berdarah dingin juga.
Uhhhh!!!Suka banget!!!Suka banget ama antagonis yang satu ini...Klo ga ada dia di film ini, ga seru deh. Perannya penting banget, lebih penting dibanding Brad Pitt...huahahahaha,lebai!

Intinya film ini layak tonton....


Kamis, 24 September 2009
05:28

Masih adakah?

Bandung, 24 September 2009


Masih adakah ya Tuhan

Kesempatan untuk bertemu dia?

Dia yang akan aku sebut soulmate

Dia yang menerimaku apa adanya

Dia yang mengerti dan memahamiku

Dia yang menyayangi dan peduli aku

Dia yang memberikan segalanya tanpa pamrih

Dan Dia yang mencintaiku tanpa disuruh

Akankah ada kesempatan itu Tuhan?

Apakah aku masih punya waktu?

Karena terkadang aku lelah

Lelah menunggu dan berharap

Lelah menata hati yang hancur berantakan

Lelah menyinggungkan senyum di saat hati ingin menangis

Lelah menghadapi kehidupan ini sendirian

Masih adakah ya Tuhan

Kesempatan untuk merasakan semua itu?


00:43


iPod Generation



Kemarin akhirnya bisa pegang iPod touch di toko EMAX BIP. Sempet berpikir untuk beli tapi kok semangatnya mendadak ilang. Ga segitunya perlunya juga sih. Walopun konon bs WiFi, bisa maen games, touch screen dan tampilannya yang ramping itu, belum cukup menguatkan iman gua untuk membelinya. iPod touch tuh kayaknya udah paling mantep deh dibanding ipod nano yang udah ada video recording. Tapi ga deh, masih mikir-mikir juga. Toh gua ga terlalu suka maen game. Paling cuman pengen bisa nonton music video di layarnya yang lebar. Mantapss!

iPod itu udah jadi salah satu gadget wajib buat para music mania. Walopun udah banyak jenis MP3 player yang lain, tp kayaknya pesona ipod memang tidak terbantahkan. Simple, praktis, easy to use tapi tetap modis.

Tapi pernah tahu ga sebelumnya sejarah format musik dan music player sebelumnya gimana? Gini nih ceritanya.

Dimulai dari piringan hitam yang rencana awalnya adalah merupakan alat dengan pena bergetar untuk menghasilkan bunyi dari disc. Sayangnya ide Charles Cros, orang Perancis, tahun 1887 itu ga pernah kesampaian. Di tahun yang sama, Thomas A. Edison menemukan phonograph, pemutar piringan hitam, yang lebih banyak dipake untuk keperluan kantor. Nah, baru pada tahun 1888, Emilie Berliner menemukan piringan hitam jenis baru dan gramophone sebagai pemutarnya, sekaligus mematenkannya di bawah label Berliner Gramaphone. Di masa itu pemilik gramaphone masih terbatas pada kalangan menengah ke atas. Maklum harganya relatif mahal.

Setelah itu, baru ada generasi kaset. Masih pada inget kan ya? Pastinya dong. Dan gua rasa jamannya kaset ini bertahan cukup lama. Kaset atau compact audio cassette dikenalkan oleh Philips di Eropa tahun 1963. Tapi baru di tahun 1965 diproduksi secara massal. Pita kaset bisa merekam dengan durasi hampir 1 jam di masing-masing sisinya. Baru pada tahun 1971, diperkenalkan model 201 yang mengkombinasikan dolby type B dan chromium dioxide (CrO2) yang merupakan cikal bakal music cassette player. Sony di tahun 1980an memunculkan Walkman sebagai media pemutar kaset portable pertama. Wuih, jaman dulu itu tuh keren banget. Biasanya kan dengerin kaset di radio di kamar. Sekarang udah ada teknologi walkman, music player yang bisa dibawa kemana-mana. Sayangnya teknologi kaset dan walkman ini masih ada kekurangan. Walkman cukup berat dibawa kemana-mana karena disupport dengan 2 batere yang bisa dibilang ga cukup tahan lama. Gua sering harus bawa batere cadangan buat jaga-jaga. Dan yang lebih ribet adalah harus bawa setumpuk kaset favorit. Makin berat aja tuh bawaan. Sayangnya kualitas kaset menurun seiring berjalannya waktu karena pita kaset akan mengalami gangguan kalau kotor atau rusak.

Setelah itu, keluarlah teknologi CD yang tujuannya merampingkan media penyimpanan musik dengan memperbaiki kualitas suara yang dihasilkan. Nah lagi-lagi Sony mengeluarkan Discman sebagai media pemutar portable di November 1984, dua tahun setelah CD diproduksi secara massal. Musik dalam format CD, VCD dan DVD memang memiliki kualitas suara yang better dibandingkan kaset, tapi tetap aja kita harus ekstra hati-hati karena dipastikan mengalami gangguan klo tergores atau berdebu.

And finally, teknologi musik digital ditemukan! Musik digital menggunakan sinyal digital dalam proses reproduksi suaranya. Sebagai proses digitalisasi terhadap format rekaman musik analog, lagu atau musik digital mempunyai beraneka ragam format yang bergantung pada teknologi yang digunakan, contohnya : MP3, WAV, AAC, WMA dan Ogg Vorbis. Format yang paling populer adalah MP3. Alasannya adalah ukuran file yang kecil dan kualitas yang ga kalah dengan CD audio.

Musik digital punya beberapa keunggulan yaitu formatnya dapat disesuaikan dengan teknologi yang digunakan dan kualitas copynya yang sama dengan master memudahkan penggandaan tanpa menurunkan mutu. Tapi sayangnya dengan kemudahan penggandaan ini memicu terjadinya pembajakan yang mempengaruhi pemasukan untuk label karena ga bisa sepenuhnya dikontrol oleh label.

Perkembangan musik digital dibarengi dengan perkembangan pemutar musik digital yang mendukung format itu. Tapi musik digital itu masih terperangkap di PC. But thank’s to Apple Inc. Hadirlah iPod sebagai piranti musik portable canggih yang pernah diciptakan. Ide pertama Ipod dicetuskan oleh Tony Fadell. Namun idenya sulit terealisasi karena terbentur biaya. Akhirnya dia menunjukkan idenya itu ke Apple Computer dan dia disewa sebagai kontraktor mandiri untuk proyek tersebut. Beliau berhasil mengembangkan dua generasi pertama dari iPod. Perkembangan iPod selanjutnya dibawah naungan Jonathan Ive.

iPod menarik dibandingkan pemutar musik digital yang lain karena adanya user interface yang sederhana dengan menggunakan desain dalam bentuk scroll wheel. Desain unik yang hanya dimiliki oleh iPod. iPod memiliki lima tombol yaitu play/pause, menu, previous, next dan select. Apple mendesain iPod untuk bekerja dengan piranti lunak iTunes yang memungkinkan penggunanya untuk mengatur koleksi musiknya di komputer dan iPod. iTunes bisa secara langsung menyelaraskan sebuah iPod dengan koleksi lagu tertentu atau dengan seluruh koleksi yang dimiliki penggunanya pada saat iPod tersebut disambung dengan sebuah komputer. Sayangnya transfer lagu hanya bisa dilakukan di komputer yang sudah diinstall iTunes. Jadi emang rada susah klo mau bagi-bagi lagu di iPod. Selain itu daya tahan batere yang lebih singkat atau tidak sesuai dengan spesifikasi resmi dari Apple,batere yang tidak bisa diganti, bass yang lemah dan distorsi equalizer bass merupakan kelemahan lain dari iPod.

Walaupun begitu sampai bulan Oktober 2004, iPod mendominasi penjualan perangkat pemain musik di Amerika Serikat, dengan meraih 92% dari pasaran perangkat hard drive dan lebih dari 65% dari pasaran jenis lainnya. iPod telah berhasil dijual dengan pesat, melebihi sepuluh juta unit dalam tiga tahun terakhir ini. iPod memang memberikan pengaruh kebudayaan yang besar di belahan dunia manapun. Generasi sekarang adalah generasi iPod, dimana-mana semua orang sibuk mengutak-atik iPod yang sampai sekarang sudah ada sekitar 7 varian. Kayaknya klo ga punya iPod di jaman sekarang ini, ketinggalan jaman banget. Itu sih menurut pendapat gua lho,hehehe. Walopun mungkin awalnya agak-agak gaptek kayak Carrie di Sex & The City The Movie (kalau udah nonton, pasti tau lah maksud gua), tapi gapapa yang penting terlihat menggunakan earphone putih kas iPod. Huahahaha,dasar!

Salut deh dengan perkembangan teknologi sekarang ini. Walkman, Discman, kaset dan bertumpuk-tumpuk CD bisa digantikan dengan perangkat mungil seperti iPod. Hidup jadi lebih mudah.

I’m glad I’m being part of this generation...

iPod generation...

Sumber : http://id.wikipedia.org/


Senin, 21 September 2009
09:31

Emotionally Exhausted


Inspired by : asti novi lestari suwandi {mohon ijin jadi judul notesku ya..(^ ^)v}

Soundtrack : 30 seconds to mars – eleven

Today I read my friend’s status @ facebook: emotionally exhausted

That’s exactly what I feel lately! Gosh! She got a perfect line. I should thank her for it.

I feel emotionally exhausted because all kind of feelings struck me without any mercy. All of those feelings sicken me. I don’t remember when did this feeling first came along. I felt happy then I cried and then heartache. Unfortunately, those feeling came repeatedly without warning. What’s wrong with me? Is this some kind of curse? Wait, that sounds creepy..lol.

Ok, so I tried to find the reason, how come those feelings never stop bothering me?
Life is about balance. There are always be happiness, sadness, pain and other things. So I should not worry about this. But I’m only human being.

My life is getting more confusing. I hardly recognize if it’s real or just a dream.

People starts disappointing me. But at the same time, they makes me happy

People starts pretending they care, but on the other hand they pulled me up when I’m down

People starts underestimated me but they also gives me priceless lessons

People starts judging me but they also never stop listening

People starts hurting me but they teachs me how to loved and be loved

So which side I should trust?

I’m so tired of drama. I’m so tired of trying to fix these broken heart. Over and over again.

I was trying the best I can so that I don’t get hurt. I have done everything I can. But what I get in return?

They still think it’s a mistake.

They still think I’m not capable doing it.

It’s not the thing they wishes to get.

Oh dear God! I can’t do this anymore. I’m tired of blaming myself. I’m tired of trying to be as perfect as they want.

If they don’t like everything I done, it’s not my problem. It’s theirs.

I’m sick being treated like this.

Enough means enough


09:22

My Bad Teeth Is Finally Out!


Bandung, 20 September 2009

Yup! Gigi nakal gua yang keluar di luar batas ke-gigi-an akhirnya dicabut. Proses pencabutannya dilakukan kemarin tanggal 19 September berlokasi di RS Borromeus Bandung.

Awalnya gigi gua yang seharusnya gigi taring itu ga keluar dari gusi. Menurut dokter giginya dibiarin aja karena toh setelah ditunggu cukup lama, ga nongol-nongol juga.
Ya sudahlah asal ga mengganggu, dibiarin aja.

Tapi ga taunya, dia tiba-tiba tumbuh menerobos gusi gua. Ga sopan!
Dasar emang gua orangnya males dan cuek banget, gua diemin aja tuh gigi. Tapi lama kelamaan kok makin mengkhawatirkan ya?? Gigi gua tuh udah bener-bener maksa pengen keluar.

Wah gawat nih klo ga dilakukan tindakan segera. Takutnya malah merusak susunan gigi gua yang lain. Akhirnya dengan tekad baja, gua ke dokter untuk konsultasi. Pas dokternya udah periksa sana periksa sini, akhirnya gua disuruh foto radiologi. Alhasil gua ke radiologi untuk foto gigi gua. Gua difoto dua kali, yang pertama foto seluruh gigi, trus yang kedua, rahang atas gua difoto dari bawah. Abis itu gua balik lagi ke dokter, dan ternyata sodara-sodara, ada 2 gigi yang harus dicabut. Selain gigi nakal gua itu, ternyata gigi geraham gua juga ada yang tumbuh tapi ga nongol dan dia menabrak gigi geraham gua yang lain. Itu baru keliatan setelah difoto. Agak2 shock sih. Soalnya kebayang klo cabut gigi geraham pasti bakalan sakit banget. Gua harus memutuskan kapan mau dioperasi pencabutan giginya. Kata dokternya sih bisa langsung hari itu. Cuman gua belum siap secara mental jadi mending cari hari lain aja deh. Lagian butuh beberapa hari untuk recovery.

Gua diskusi masalah operasi ini ke nyokap dan beliau menyarankan gua untuk ambil cuti. Minimal satu hari deh. Setelah dipikir-dipikir panjang dan lebarnya (halah!), gua memutuskan untuk buat janji operasi pas libur lebaran. Kan lumayan tuh libur 10 hari, jadi gua ga perlu ambil cuti. Lumayan bisa nabung cuti untuk hal-hal penting dan mendadak (you know what I mean lah...hehehe). Ya udah setelah deal dengan nyokap, nyokap mendaftarkan diriku operasi pas libur lebaran.
Anehnya gua merasa biasa-biasa aja, ga takut atau panik. Padahal waktu gua kecil, gua sering banget ke dokter buat cabut gigi. Gua sempet trauma karena pas disuntik itu rasanya sakit banget. Tapi pas diinget-inget ga ngefek tuh, mungkin krn gua juga udah lupa rasanya gimana. Yang lebih aneh lagi, nyokap gua yang lebih takut dan ga berani nemenin gua. Walah!Gua ga mau sendirian lah. Walopun gua ga takut dioperasi setidaknya klo ada nyokap kan lumayan tenang.

Detik-detik menjelang operasi, gua harus minum obat dulu sejam sebelumnya supaya ga terlalu sakit. Pas lagi duduk-duduk di ruang tunggu, ga berapa lama nama gua dipanggil. Untung aja nyokap udah ada di belakang gua. Berarti aman! Gua langsung disuruh duduk dan tanpa ngomong apapun, dokternya langsung menyuntikkan obat bius lokalnya. Gua langsung nutup mata gua. Rasanya pahit dan gua langsung kumur-kumur. Dokternya balik ke kursi, ngobrol sebentar ama nyokap gua. Gua sama sekali ga ngerti mereka lagi ngomongin apa karena gua masih shock dengan suntikan tadi. Ga berapa lama, dokternya balik lagi dan melakukan operasi. Gua tutup mata gua lagi. Bener-bener ga berani lihat , ntar gua makin takut. Gua cuman mengira-ngira apa yang sedang dilakukan dokter itu dengan gerakan-gerakan tangannya di mulut gua.
Setelah gusi gua dirobek sedikit, dokternya langsung ambil tang berusaha mencabut gigi gua dengan paksa. Benar-benar dipaksa lho!Tanpa ampun, gigi gua ditarik-tarik dengan kejamnya ampe gusi gua berdarah. Huhuhu,teganya dirimu dokter. Sempet ganti ke tang yang lebih kecil, tapi tetep aja ga ngefek. Gua sempet teriak-teriak kesakitan ampe dokternya berhenti sebentar, “sakit ya?ga kan?”. Ya emang ga terlalu sakit sih cuman agak2 serem aja karena bunyinya itu lho bikin was-was. Rada-rada lebai ya?huahahahahaha. Akhirnya gigi gua berhasil dicabut keluar. “Udah selesai ya mbak.”, begitu kata susternya. Iya sih udah selesai tapi darahnya ga berhenti keluar. Susternya bolak-balik ambil kapas buat bersihin darah.

Abis itu, lanjut ke proses penjahitan. Gua udah serem aja pas liat dokternya pegang –pegang benang jahit. Huhuhuhu, itu apaan!!! Jangan!! Udah telat! Dokternya sudah siap menusukkan jarumnya ke gusi gua. Beneran deh! Itu tuh sakit banget. Ya ampun baru gusi yang ditusuk aja udah sakitnya minta ampun. Apalagi kalau tangan atau kepala ya? Ih serem! Sempet jerit-jerit juga sih. Dokternya berusaha menenangkan. Gua sih pasrah-pasrah aja.

Cuman sekitar 15 menitan akhirnya operasinya kelar juga. Gua dikasih liat gigi nakal gua itu. Buset dah! Ternyata panjang juga ya?! Dan anehnya akarnya melengkung gitu. Parah! Penasaran ga?Hehehehe, jangan deh. Soalnya bokap ama adikku gua aja jijik pas gua kasih liat. Jadi daripada ntar pada mimpi buruk, mendingan ga usah ya.

Nah, ternyata dua gigi gua yang lain (yang tumbuh normal-red) dipasang kawat gitu. Kata dokternya sih supaya susunannya ga berubah. Jadi ceritanya itu, akar gigi nakal gua itu tumbuhnya di tengah-tengah akar dua gigi gua yang lain. Pas proses pencabutannya pun, dokternya rada hati-hati gitu soalnya takut ‘melukai’ dua gigi lain. Ck,ck, ternyata serumit itu ya cuman urusan gigi doang. Rada aneh sih pas dipasang kawat itu, berasa kayak pake kawat gigi a.k.a behel.
Sehabis operasi itu, gua juga tetep harus minum obat, antibiotik ama pereda rasa sakit. Waduh!paling ribet deh klo udah disuruh minum obat. Klo gt kan makannya kudu teratur. Jadi makin gendut deh...huhuhuhuhu.

Walopun sepertinya banyak penderitaan yang harus kulalui (hayah, lebai!), sisi positifnya adalah gigi nakal gua ini akhirnya keluar juga. Jadi masalah pergigian ini sudah selesai. Eh tp masih ada satu lagi deng yang belum dicabut, gigi geraham gua. Gua awalnya udah mau sekalian dua gigi yang dicabut. Cuman kok satu aja, udah cukup traumatis nih. Ya udah ga jadi deh. Lagian dokternya bilang ga harus dicabut sekarang, tunggu recovery untuk gigi yang pertama dulu. Toh, butuh waktu seminggu untuk dateng lagi ke dokternya untuk dibuka jahitannya. Untung aja operasinya pas libur panjang jd kan ga perlu bolak-balik ke Bandung. Keputusan tepat!
Yang perlu diperhatikan sekarang adalah makan hati-hati dan teratur minum obat. Semoga cepet sembuh deh supaya bisa makan dengan rakus lagi,hihihihi.

So begitulah kronologis operasi gigi nakal gua.

Aneh, mendebarkan sekaligus melegakan...hehehehe.


Sabtu, 05 September 2009
23:25

Have you ever feel like this?

Rowen nggak akan pernah lupa pertama kali dia menginjakkan kaki di tempat itu. Suasananya kantor banget. Persis seperti yang dibayangkan Rowen. Jadi rasanya salah kalau Rowen berkomentar negatif seperti ini setelah seminggu terlewati. It feels like hell!

Semua orang tampak memaklumi kalau Rowen merasa stress. Hal wajar yang dialami setiap orang yang pertama kali masuk tempat itu. Lagipula baru seminggu. Rasanya keterlaluan kalau mengambil kesimpulan secepat itu.

Sibuk belajar, bekerja, menghadapi hidup sendirian membuat Rowen lupa dengan kesan pertamanya. Perasaan stress dan tertekan sepertinya lebih mendominasi. Kalau sudah begitu, kembali ke rumah cukup menyegarkan jiwa dan pikiran. Apabila sudah saatnya kembali, Rowen berusaha setengah mati menguatkan hati. Berpikir positif, mengumpulkan semangat dan berharap mendapat banyak ilmu menjadi alasan yang cukup kuat untuk Rowen.

Segala alasan itu yang menguatkan langkah Rowen. Teman-teman yang luar biasa juga menghibur Rowen. Sepertinya begitu sempurna. Tapi kenapa Rowen merasa ada yang salah? Kenapa Rowen merasa tidak nyaman dengan kehidupan barunya ini? Apakah ini hanya emosi berlebihan?

Nggak, ini nggak mungkin bisa salah. Perasaan terkadang mengungkapkan hal paling jujur. Rowen merasakan perasaan yang berbeda setiap kali di tempat itu dan rumah. Rowen menjadi seperti orang lain yang aneh. Menjadi orang lain supaya bisa beradaptasi dengan orang-orang ‘kaku’ di tempat itu. Supaya Rowen bisa menjadi teman terbaik buat teman-temannya. Rowen akan berusaha setengah mati untuk bersikap ‘normal’ supaya tidak ada yang menganggapnya ‘aneh’.

Tapi apa yang terjadi kemudian? Jiwanya menjerit. Jiwanya menolak mentah-mentah. Rowen tidak bisa melakukan apa-apa. Hal yang bisa menghentikan jiwa itu adalah kembali ke rumah, menjadi Rowen yang dulu. Keadaan ini akan selalu berulang. Rowen tidak bisa begitu saja mengembalikan dirinya ke keadaan semula. Nggak sesimple itu. Emosi tidak boleh mengalahkan akal sehat. Ini adalah resiko untuk Rowen berada di dunia ‘orang dewasa”, begitu Rowen menyebutnya.

Terkadang menjadi orang lain itu menyenangkan. Hidup Rowen menjadi lebih berwarna. Tapi hati nggak bisa bohong. Hatinya akan selalu mengingatkan Rowen. Walaupun Rowen kadang-kadang bisa menuruti hatinya, entah bagaimana Rowen akan kembali menjadi orang lain. Nggak bisa seperti itu caranya!Tidak cukup sekedar mengingatkan! Rowen harus keluar. Itu satu-satunya cara.

Tersiksa. Benar-benar tersiksa. It’s not me!

Ada begitu banyak fase dalam kehidupan Rowen akhir-akhir ini. Menjadi dirinya sendiri. Menjadi orang lain. Dan satunya lagi tidak menjadi siapa-siapa. Itu fase tenang untuk Rowen. Perasaan, jiwa dan hatinya tidak memikirkan apapun. Rowen tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Karena fase itu datang tanpa peringatan apapun.

Segalanya berjalan begitu cepat. Rowen tidak menyangka tahun berganti begitu cepat. Banyak hal yang terjadi, banyak hal yang dirasakan, dan banyak hal yang berubah. Berubah secepat kilat sampai terkadang Rowen tidak menyadari hal itu pernah ada. Seiring berjalannya waktu, fase-fase itu terus berganti posisi. Rowen tidak terlalu sering mengeluh seperti dulu. Sepertinya segalanya mulai baik-baik saja. Rowen berpikir ini semua hanya perasaan wajar saat kamu memasuki dunia orang dewasa. Rutinitas berlanjut seperti seharusnya.

Hingga hari ini. Rowen merasa ada sesuatu yang salah. Fase-fase dirinya semakin jarang berganti. Fase-fase tersebut semakin susah dibedakan. Kenapa ini? Apakah Rowen sudah kehilangan kendali atas dirinya sendiri? Seharusnya ketiga fase tersebut memiliki porsi yang sama. Tapi kenapa fase dirinya menjadi orang lain malah menjadi semakin dominan? Oh tidak!

Jiwanya lagi-lagi berontak. Kali ini Rowen benar-benar marah dan ingin berteriak sekeras-kerasnya. Kenapa jadi seperti ini? Rowen semakin sulit melepaskan topeng sialan itu. Akhirnya Rowen semakin membenci dirinya sendiri. Ini bukan salah siapapun juga. Ini mungkin kesalahan Rowen. Rowen terlalu lama mengambil keputusan untuk secepatnya keluar dari tempat ini. Keputusan yang nggak bisa segampang itu diambil. Segala sesuatunya harus dipikirkan. Itu soal lain. Rowen kehilangan kendali.

Sekarang Rowen hanya bisa menangis.

Mungkin ini hanya soal waktu

Dan segala sesuatunya akan kembali seperti dulu

Dedicated to : my beloved who said ‘i miss the old me’


Senin, 31 Agustus 2009
10:56

The Murderer

Tanganku tidak bisa berhenti bergetar.Aku berusaha menahan pistol untuk tidak jatuh dari peganganku. Tubuh itu tergelatak dalam kubangan darah di depanku. Aku tidak segera pergi atau menelepon ambulan. Aku hanya berusaha menahan deru napas dan detak jantung ini agar tidak terdengar orang lain. Bodoh!Sudah malam dan kurasa tidak ada yang mendengar. Aku memperhatkan tubuh itu sekali lagi, mengelilinginya untuk memastikan dia tidak bergerak lagi. Yup!adikku sudah tidak bernyawa lagi.

Sekilas gambar bermunculan di kepalaku. Adikku anak peempuan satu-satunya, seperti anak perempuan kebanyakan. Dimanja dengan banyak hal dan bahkan kupikir itu terlalu berlebihan. Aku terkadang tidak terlalu memikirkan hal itu dan sibuk mencari udara segar. Bermotor saat udara masih berbau air hujan. Itu satu-satunya penghiburku. Banyak orang yg bilang aku pecundang. Tidak punya pekerjaan, tidak punya masa depan. Tapi tidak untuk adik cantikku. Dia punya segalanya. Pintar, selalu tersenyum, ramah, punya masa depan cerah. And all the fucking bullshit!

Aku tahu keluargaku sudah tidak mempedulikan diriku lagi karena ada seseorang yang lebih pantas untuk diperhatikan. Aku membencinya, sama sperti halnya aku membenci diriku sendiri. Nyaris peluru itu masuk ke tengkorak kepalaku. Tapi berulang kali pula aku berhasil menguatkan diriku sendiri dan obat penenang menjadi pilihan lain. Aku perlu seseorang untuk dipersalahkan atas ketidakberuntunganku. Suara tawa mengingatkanku akan seseorang yang ternyata kusadari memang pantas menjadi pelampiasanku. Adikku tersayang. Adikku akan selalu berdiri diantara aku dan orangtuaku. Keberadaanku akan selalu diragukan. Aku sering merasa muak. Ingin rasanya pergi dari tempat ini. Tapi toh aku tidak bisa kemana-mana. Kurasa tidak akan ada tempat untuk pecundang. Bermacam-macam skenario sudah kususun. Tidak ada gunanya. Nafsu dan rasa muak ini sudah tidak tertahankan.

Dan beginilah. Aku berdiri di depan mayat adikku dengan perasaan takut. Dan tentu saja tidak percaya. Aku punya keberanian untuk melakukannya. Suara berisik di luar menyadarkanku. Serentak itu pula aku langsung merampas tas yang sudah kusiapkan sebelumnya dan beranjak pergi. Sudah waktunya kabur.

Toi menutup halaman yang baru dibacanya. Sebuah catatan terakhir. Ternyata memang ada kebencian itu. Dan memang tidak pernah ada kesempurnaan dan kemurnian hati. Mungkin saja ada tapi Toi tidak terlalu ingin mempertahankan. Toh Toi hanya manusia yang mempunyai sisi gelap juga. Toi mengamati tubuh yang tergeletak di depannya, menghela napas. Semua sudah berakhir. Toi merasa lelah dan ingin istirahat. Toi beranjak masuk ke dalam kamar. Sebelum tidur, Toi menyempatkan diri menulis catatan di halaman yg tadi dibacanya.

“ Maafkan Toi, Kak. Tapi Toi harus melakukan ini. Toi merasa terancam dan ini pun Toi lakukan untuk kebaikan kakak. Kakak tidak bisa begini terus, karena Toi sayang Kakak. Semoga Kakak bahagia di sana.

NB : Terimakasih untuk skenario-skenarionya. Tidak ada yg lebih baik dari yang satu ini. Aku rasa aku tidak akan ketahuan. Kecuali mereka menemukan catatan ini.”